Cerpen

0

 

Seulas Senyum Pahit di Wajah itu

 

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini
bermain-main lagi denganku”, pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil
yang bermain-main dengan pohon lagi”, jawab anak lelaki itu.  ”Aku ingin
sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya”.

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau
boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang
untuk membeli mainan kegemaranmu”.   Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu
kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya
datang. “Ayo bermain-main denganku lagi”, kata pohon apel. “Aku tak punya
waktu”, jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami
membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” Duh, maaf
aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu”, kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa
sangat bersuka cita menyambutnya.  ”Ayo bermain-main lagi denganku”, kata
pohon apel. ”Aku sedih”, kata anak lelaki itu. ”Aku sudah tua dan ingin hidup
tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah
kapal untuk pesiar?”

“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah”.  Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku”. kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi
untukmu”. “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah
apelmu”.  jawab anak lelaki itu.

“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat”, kata pohon apel.  ”Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu”, jawab anak lelaki itu”. Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini”, kata pohon apel itu sambil
menitikkan air mata.

  “Aku juga sudah terlalu tua, kalau untuk memanjat”, kata anak lelaki itu. Anak lelaki itupun sempat termenung seketika saat mendengarkan curahan hati si pohon apel tersebut, ia berfikir ternyata selama ini apa yang ia lakukan kepada si pohon apel tersebut sangatlah tidak berperasaan. Ia datang dan ingat kepada si pohon apel tersebut hanya saat ia membutuhkan sesuatu tetapi ketika ia sudah dapat apa yang ia inginkan dia pergi dan tak ingat sama sekali kepada pohon apel tersebut. “Maafkan aku pohon apel, selama ini aku sangat tidak tahu terimakasih, dengan apa yang sudah kamu berikan padaku bahkan aku mendatangimu hanya saat aku membutuhkan sesuatu, tetapi ketika aku sudah mendapatkan apa yang aku mau aku sama sekali tidak mendatangimu lagi, maafkan aku”, Kata anak lelaki tersebut sambil menitikan air matanya. Pohon apel tersebut kembali tersenyum setelah mendengar ucapan dari anak lelaki itu bahkan ia pun tak pernah berfikir bahwasannya anak lelaki itu masih sempat mendatanginya walaupun sudah tidak ada lagi yang dapat diharapkan dari dirinya karena yang tersisa hanyalah akar pohon yang hampir sekarat ini. “wahai anakku, tak pernah sedikitpun aku berfikir bahwa kau sama sekali seorang anak yang tidak tahu terimakasih, karena ketika aku bisa membantu mewujudkan semua apapun yang kamu inginkan itu merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku. Walaupun terkadang aku sangat merindukanmu ketika kamu tidak pernah mendatangiku lagi, bahkan aku berfikir apakah hidupmu dengan keluargamu sudah bahagia dan semua kebutuhan mu dengan keluargamu apa dapat terpenuhi semua”. Kata si pohon apel tersebut, dan setelah itu si pohon apel dan anak lelaki itu sama-sama saling terdiam.

Mereka hanya sedang mengingat saat dulu pertama kali mereka bisa saling sering bermain ketika si anak lelaki itu masih kecil bahkan anak lelaki itu sering sekali mendatangi pohon apel tersebut. “Dulu dari buahmu dahan rantingmu bahkan sampai yang tersisa pada dirimu hanya tinggal akar yang hampir sekarat ini  mengapa sama sekali kau tidak pernah membenciku pohon apel padahal aku terlihat begitu jahat padamu, aku datang padamu hanya ketika aku butuh sesuatu setelah itu aku melupakanmu lagi”, anak lelaki itu masih saja mengutuk dirinya karena apa yang sudah ia perbuat kepada pohon apel tersebut, berulang-ulang kali dia menyatakan bahwa dirinya sangatlah kejam sangatlah tidak berperasaan dan berfikir apa yang dapat ia balas kepada pohon apel tersebut saat ini karena dengan apa yang sudah diperbuat oleh pohon apel tersebut kepadanya. Mungkin walaupun dengan penyesalan yang ada tidak akan dapat menebus semua yang sudah dilakukan oleh nya kepada si pohon apel tersebut. “aku hanya ingin melihatmu mendapatkan apa yang kau inginkan, dari saat kau kecil kau ingin membeli mainan tapi kau bilang kau tak memiliki uang sampai kau ingin membuatkan rumah untuk keluargamu aku rela memberikan buah apel sampai dahan dan ranting pohonku untuk memenuhi apa yang kau inginkan karena aku hanya ingin melihat kau bahagia dan berfikir bahwasannya dengan hal itu kau mau lagi bermain denganku sama seperti saat dulu kau masih kecil.” Kata-kata pohon apel itu membuat si anak lelaki tersebut menangis sejadi-jadinya ia benar-benar menyesal dengan apa yang sudah ia perbuat kepada pohon apel tersebut. Ia tidak pernah sedikitpun memiliki waktu ketika si pohon apel tersebut ingin bermain dengannya bahkan ia melupakan pohon apel tersebut saat ia sudah dapat memenuhi semua kebutuhannya. Berkali-kali ia menangis terisak mengingat apa yang sudah terjadi dan tak akan lagi bisa di perbaiki bahkan diulang pun tak akan pernah bisa.

Dengan rasa penyesalan yang ia miliki kepada pohon apel tersebut si lelaki itu membeli bibit-bibit pohon apel baru kemudian ia menanam semua bibit itu disekitar si pohon apel tersebut, ia berharap kelak ketika bibit-bibit itu sudah tumbuh besar bisa menemani si pohon apel tersebut dan pohon apel tersebut tidak pernah lagi merasakan kesepian seperti waktu kemarin. Memang tak banyak hal yang dapat ia perbuat untuk menebus semua kesalahan yang sudah terjadi  tetapi ia berharap hal ini dapat membuat si pohon apel tersebut bahagia dan dapat kembali tersenyum serta tidak merasa sedih dan kesepian lagi.

Kemudian setelah hari itu anak lelaki itupun lebih sering mendatangi si pohon apel dan ia pun bahkan menyirami semua bibit-bibit pohon apel yang ia tanam itu karena berharap bibit tersebut cepat tumbuh besar sehingga kelak dapat menemani si pohon apel tersebut agar tidak lagi merasa kesepian. Karena bagaimnapun yang diinginkan pohon apel tersebut hanyalah ditemani dan ingin bisa bermain bersamanya seperti dulu. Memang benar penyesalan itu tiba di akhir karena dengan penyesalan tersebut kita pun dapat menjadi yang lebih baik bahkan setelah penyesalan itu terjadi seseorang yang menyesal akan menjadi lebih baik dan lebih dapat menghargai sesuatu hal yang sudah terjadi. (karya cagu)



Aku yang Tak akan menyerah


Kala manusia dihadapkan dengan suatu hal yang berulang terus-menerus, yang garis akhirnya tak bisa ditemukan tak peduli seberapa lama ia mencari, layaknya sedang menerka dimana ujung alam semesta, apa dampak yang mungkin ia alami?

Manusia adalah mahluk yang sungguh rapuh. Menyombongkan diri dengan kekuatan fisik berlebih serta omongan manis yang dapat mengikat khalayak banyak ke dalam jeratan dustanya, seolah-olah dia memaksa takdir untuk memihaknya. Namun ketika diberi cobaan berupa kehilangan sesuatu yang berharga, keadaan sulit yang segan untuk pergi, kecamuk antar batin, dan semacamnya, maka manusia tidaklah lebih dari seorang bayi yang baru tiba ke buaian dunia. Ringkih, tak berdaya, dan beketergantungan pada manusia lain.

Bila dihadapkan dengan hal seperti itu, apa dampaknya bagi manusia? Ketika tak henti-hentinya dipojokkan ke sudut keputusasaan, pikiran bergelung pada pertanyaan-pertanyaan tanpa makna yang turut meluncur dari bibir, maka apa yang akan terjadi?

Marah? Manusia memang terkenal sulit untuk mengatur emosi.

Muak? Manusia memang suka bersikap demikian jika diberi waktu lama.

Lelah? Manusia memang punya batas akan seberapa kuat mereka menahan sesuatu.

Hancur berkeping-keping? Setiap manusia pasti akan merasakannya.

Habis tak bersisa? Pada akhirnya setiap manusia akan berakhir seperti itu.

Tapi dalam hidup ini, ada kebaikan dan keburukan. Dua sisi koin yang tak akan bisa dipisahkan, selamanya terpaut. Manusia tak akan mengenal keburukan jika tak ada yang mengusik kebaikan, dan manusia tak akan mengenal kebaikan jika tak ada yang melawan keburukan. Semua hal dalam hidup mengandung kebaikan dan keburukannya sendiri, meski dalam tindakan paling baik atau kejadian paling buruk sekalipun.

Hidup ini berkerja dengan suburnya sekuntum keburukan di tengah ladang kebaikan, dan jatuhnya setetes kebaikan di tengah parit keburukan. Di tengah pandemik seperti ini, apa dampaknya bagi semua manusia? Dimanakah mereka bisa menemukan setitik kebaikan di tengah kotornya lumpur keburukan? Serta dapatkah mereka melaluinya hidup-hidup?

.

Sinar mentari menyambut kamarku, dan kelopak mataku terbuka dengan sayu.

Kaki kuayunkan dari pinggir kasur, telapak tuna busana bertemu dengan bekunya lantai keramik yang diterjang oleh hembusan pendingin udara di kamar. Setelah sholat Shubuh dan mengaji sekitar 15 menit, aku membungkuk untuk mengambil tas laptop serta ponselku dan bergegas ke perpustakaan di lantai dua rumahku, mempersiapkan semua gawai untuk pembelajaran hari ini. Setiap hari, tak terkecuali Sabtu dan Minggu, inilah yang selalu kulakukan. Serangkaian kegiatan yang telah tertanam jauh di dalam otak, dengan sisa anggota tubuh hanya perlu mengikuti program yang tersedia hari ini. Otomatis dan tanpa bantahan.

Apakah diriku jika bukan robot untuk kurikulum?

Apakah sarapan hari ini banyak atau sedikit? Bunda selalu berusaha memasak banyak untuk kami, sehingga terdengar tak mungkin aku akan sarapan sedikit.

Berita mencengangkan apa lagi yang akan ditampilkan di televisi pagi ini? Indonesia tampak tak pernah kehabisan material untuk dijadikan berita, walau hal terkonyol sekalipun.

Berapa banyak obat yang harus kuminum hari ini? Selama tubuhku tak banyak bertingkah, aku tak berpikir aku perlu meneguk lebih dari dua tablet hari ini.

Apakah semua guru akan hadir dalam pembelajaran hari ini? Aku berharap demikian, lagipula kondisi menyulitkan ini merupakan penderitaan dua arah, dipukul rata untuk semua.

“Masuk jam berapa?” Kakak bertanya dari ruang tengah.

“Delapan kurang sepuluh,” jawabku dengan segelas air di tangan. “Aku mau ke atas dulu.”

“Oke, jangan lupa minum obatmu.”

Kakiku berderap pada setiap anak tangga, dan tepat di belakang mejalah tempat diriku duduk, menatap layar laptop yang sudah siap untuk menempuh hari ini walau terjangkit puluhan masalah. Aku tak terlalu peduli, selama ia berguna maka ia tidak akan pergi.

Pertemuan daring di laptop mulai menghasilkan suara, dan hariku berlanjut.

Setiap hari, tak terkecuali Sabtu dan Minggu, inilah yang selalu kulakukan.

“Masuk jam berapa?” Kakak kembali bertanya.

“Delapan kurang lima belas,” jawabku, “Aku mau ke atas dulu.”

“Mm, nih obatmu.”

Terus…

“Masuk jam berapa?”

“Delapan kurang sepuluh. Aku mau ke atas dulu.”

“Iya, obat jangan sampai kelupaan.”

Menerus…

“Masuk jam berapa?”

“Delapan kurang lima belas. Aku mau ke atas dulu.”

“Iya, iya. Ingat, minum obat.”

Selalu seperti ini…

“Kakak, ayo kita les. Sebentar lagi mulai.”

“Oke, tunggu sebentar.”

Mau sampai kapan ini berlangsung?

“Ayo ke atas, link meeting sudah ada nih.”

“Iya, Kak.”

Aku sudah tak ingin tau lagi.

“Kakak,” panggilku.

“Ya?” Kakak menoleh dari buku pelajarannya, dan helaan napasku menggulung lemah.

“Besok sudah Senin lagi ya?”

“Yap. Waktu berjalan dengan begitu cepat kan?”

Aku benci fakta itu, namun di saat yang bersamaan aku menyukainya. “Terlalu cepat.”

Laju waktu yang terlalu cepat seringkali membantuku untuk melupakan.

.

“Hei, kemarilah kesini sejenak.”

Kakak menghilang di sudut tangga, dan kala aku mengejar langkahnya, dia sudah berdiri di depan pintu kamar atas yang jarang orangtua kami gunakan. Aku tak perlu berpikir dua kali ketika menghampiri Kakak dan melihatnya dengan tatapan penuh selidik.

Kakak mengerti, karena dia menjelaskan sebelum aku dapat mengatakan sesuatu. “Sedikit stress reliever, karena Kakak tau kau ini terlalu sering membebankan sekolah ke dalam kepalamu. Itu tidak baik, kau tau?”

Kakak tak butuh konfirmasi verbal dariku untuk mengetahui bahwa ucapannya tepat sasaran. Dengan mudahnya dia membuka pintu kamar yang terkenal kukuh di engselnya, dan meski decitannya cukup memekakkan telinga, aku tetap mengunci mulutku dan mengekori Kakak saat dia mendorong jendela kembar di kamar terbuka hingga panel kacanya hampir berada di posisi horizontal di atas kepalanya.

“Sini deh, sini,” Kakak mengayunkan tangannya padaku seraya mengusap-usap debu yang mengumpul di ambang jendela akibat sudah lama sekali sejak terakhir kali dibersihkan. Saat ini, satu-satunya pilihanku hanyalah menurutinya. Aku beranjak untuk duduk di sebelahnya dan memandang ke arah mata Kakak tertuju, yang mana merupakan langit petang membentang bebas di atas kami, sebuah sapuan luas jingga yang perlahan meresap ke kelamnya malam seiring sang surya tenggelam di khatulistiwa.

“Pemandangannya bagus kan ya? Udah adem, nggak ada yang berisik pula.”

Aku mengangguk dan menangkupkan wajahku di kedua telapak tanganku, merenung dalam diam. Untuk apa Kakak membawaku kesini? Hanya untuk sekadar menikmati pemandangan? Kalau itu benar, aku selalu bisa melakukannya sendiri tanpa Kakak.

“Jangan sering-sering pikirkan sekolah,” Kakak menyeletuk setelah jeda sesaat, menyadarkanku dari lamunanku, “Kalau dipikirkan terus nanti tubuhmu makin hancur, lalu sekolahnya bagaimana? Aku tau kelas 11 itu masa-masa berat, tapi lihatlah langit senja ini.”

Tangan Kakak terulur ke atas, seolah-olah dia ingin menggengam matahari dalam kepalan tangannya dan menguasainya. “Awan sering lewat, hujan sering lewat, petir sering lewat, terik panas sering lewat, tapi langit masih bersikeras untuk menetap tuh. Kita bisa kok menjadi orang sekuat langit terlepas dari semua bencana yang ia buat dan saksikan. Kau juga jangan menyerah segampang itu, kan masih ada Kakak disini untuk membantu!”

Kakak melempar sebuah seringai lebar ke arahku, sepenuh hati dan penuh janji, dan aku merasakan senyumku sendiri merekah di sepanjang pipiku.

Kakak benar. Aku mungkin marah, muak, dan lelah dengan hamparan parit keburukan ini, tapi setidaknya, aku belum menyerah pada dekapan sang akhir yang penuh kasih.


Sesa







































































Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)